Game GameCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
gaming

Apakah Game Co-op Lokal Split Screen Masih Worth Dimainkan di 2026?

Apakah split screen masih worth di 2026? Ini jawaban jujur soal biaya, risiko, game yang cocok, dan kapan lebih enak online.

8 Aug 2026 · 9 menit baca · oleh Rafi Hutapea
Apakah Game Co-op Lokal Split Screen Masih Worth Dimainkan di 2026?

Game co-op lokal split screen itu posisinya agak lucu di 2026. Di satu sisi, banyak game sekarang lebih mendorong main online, pakai akun masing-masing, voice chat sendiri, layar sendiri. Tapi di sisi lain, pertanyaan “apakah game co-op lokal split screen masih worth dimainkan di 2026?” masih sering muncul. Soalnya pengalaman duduk satu sofa, satu layar, dan ribut bareng teman atau pasangan memang belum tergantikan sepenuhnya.

TL;DR, menurut saya masih worth. Tapi bukan untuk semua orang dan bukan untuk semua jenis game. Split screen paling terasa nilainya kalau kamu punya teman serumah, pasangan, saudara, atau circle yang memang bisa kumpul fisik. Kalau hidupmu lebih sering main jarak jauh, online co-op jelas lebih praktis. Namun untuk momen akhir pekan, libur pendek, atau malam santai setelah kerja, game split screen masih punya “rasa” yang susah ditiru. Saya di Balikpapan cukup sering lihat pola ini: orang kerja atau kuliah, susah cari waktu panjang, tapi begitu kumpul 2 sampai 4 orang di rumah, game seperti Overcooked, It Takes Two, Moving Out, atau LEGO Star Wars bisa langsung jalan tanpa drama teknis yang terlalu ribet. dua pemain bermain game co-op lokal split screen di ruang keluarga.

Kenapa split screen masih terasa relevan di 2026?

Alasan utamanya sederhana: split screen itu sosial secara langsung. Bukan cuma soal menyelesaikan misi, tapi soal reaksi spontan. Ketika satu pemain salah lompat di It Takes Two, telat angkat panci di Overcooked, atau malah nyasar saat balapan di Mario Kart, responsnya langsung terdengar. Ada ketawa, saling protes, kadang saling menyalahkan setengah bercanda. Ujungnya, yang diingat bukan cuma level yang tamat, tapi suasana mainnya.

Dari sisi praktis, split screen juga punya keunggulan yang sering diremehkan. Kamu tidak perlu dua konsol, dua TV, dua salinan game, atau dua koneksi internet stabil. Cukup satu perangkat, dua controller, dan layar yang cukup nyaman. Ini penting kalau main di rumah kontrakan, apartemen kecil, atau ruang keluarga yang memang cuma punya satu TV. Di Balikpapan, koneksi internet di area tertentu sudah jauh membaik, tapi tetap ada malam ketika ping naik atau jaringan rumah lagi tidak bersahabat. Untuk game lokal, masalah itu hampir tidak relevan.

Secara sejarah, split screen juga bukan fitur baru. Mode layar terbagi sudah lama dikenal di game konsol dan PC, bahkan istilah split screen sendiri umum dipakai untuk tampilan layar yang dibagi menjadi beberapa bagian, seperti dijelaskan di Wikipedia tentang split screen. Bedanya, di 2026 pilihan game-nya lebih selektif. Tidak semua game besar mau menyediakan fitur ini karena alasan performa, desain UI, dan target pasar online.

Contoh konkret: It Takes Two rilis pada 2021 dan sampai 2026 masih sering direkomendasikan untuk pasangan atau dua teman. Desainnya memang dibangun untuk kerja sama dua pemain. Durasi tamatnya kira-kira 10 sampai 15 jam, cukup panjang untuk beberapa sesi malam. Itu bukan sekadar nostalgia, tapi bukti bahwa co-op lokal masih bisa terasa modern kalau gamenya memang dirancang serius.

Bagaimana cara menilai game split screen yang benar-benar worth?

Cara paling aman adalah jangan cuma lihat label “local co-op” di halaman toko game. Ada game yang secara teknis bisa dimainkan berdua, tapi pengalaman pemain kedua terasa seperti tempelan. Kalau saya pribadi, game split screen yang worth biasanya punya tiga ciri: peran tiap pemain jelas, layar tidak bikin pusing, dan progresnya tetap seru walau pemain tidak sama jagonya. Ambil contoh Overcooked 2. Game ini bisa terasa kacau, tapi kekacauannya memang bagian dari desain. Satu pemain bisa potong bahan, satu lagi masak, satu lagi cuci piring kalau main bertiga. Kalau ada yang kurang jago, dia tetap bisa pegang tugas sederhana. Ini membuat game cocok untuk keluarga atau teman yang tidak semuanya gamer rutin.

Untuk split screen murni, ukuran layar juga penting. TV 32 inci masih bisa, tapi untuk game dengan teks kecil atau layar yang dibagi empat, pengalaman bisa kurang nyaman. Saya pernah main co-op lokal di TV 32 inci dengan jarak duduk sekitar 2 meter, untuk game ringan masih oke. Tapi saat UI padat dan kamera sering bergerak, mata cepat capek. Di TV 43 inci ke atas, biasanya lebih aman untuk dua pemain, sementara empat pemain lebih nyaman di 50 inci atau lebih.

Sebelum beli, cek juga apakah game mendukung local co-op di platform yang kamu punya. Kadang versi PC, PlayStation, Xbox, dan Switch punya perbedaan kecil. Hal lain yang sering kelupaan adalah jumlah controller. Di 2026, harga controller resmi bisa cukup terasa. Controller PlayStation atau Xbox baru sering berada di kisaran ratusan ribu sampai di atas Rp1 juta, tergantung toko dan promo. Jadi biaya game bukan cuma harga software.

Daftar singkat game split screen atau local co-op yang menurut saya masih aman dipertimbangkan:

  • It Takes Two, cocok untuk dua pemain yang mau petualangan co-op dengan cerita ringan.
  • Overcooked 2, cocok untuk grup yang tahan ribut dan suka tantangan koordinasi.
  • Moving Out 2, cocok untuk main santai, lucu, dan tidak terlalu teknis.
  • Stardew Valley, cocok untuk co-op lebih kalem, meski ritmenya tidak secepat game pesta.
  • LEGO Star Wars: The Skywalker Saga, cocok untuk keluarga atau pemain yang ingin aksi ringan.

Apa risiko dan kekurangan main split screen sekarang?

Kekurangan terbesar split screen di 2026 adalah pilihan game AAA tidak sebanyak harapan banyak orang. Banyak game modern lebih fokus ke online co-op karena alasan teknis dan bisnis. Menjalankan dua sudut pandang sekaligus di satu mesin bisa berat, terutama untuk game dunia terbuka dengan grafis detail. Akibatnya, developer kadang memilih tidak menyediakan mode lokal agar performa tetap stabil. Risiko kedua adalah kenyamanan visual. Split screen berarti ruang layar tiap pemain mengecil. Untuk game balap, shooter, atau petualangan dengan banyak detail kecil, ini bisa mengganggu. Kamu mungkin lebih sering salah lihat musuh, kelewat item, atau tidak sadar arah tujuan. Kalau main hanya 30 menit, mungkin tidak masalah. Tapi setelah dua jam, terutama malam hari setelah kerja, mata bisa terasa berat. Ya begitu, bukan karena gamenya jelek, tapi format layarnya memang punya batas.

Ada juga risiko konflik kecil, terutama untuk game yang menuntut koordinasi. Overcooked itu contoh klasik. Di awal lucu, setelah gagal level yang sama lima kali, nada suara bisa naik sedikit. Kalau main dengan pasangan atau adik, pilih game yang cocok dengan mood. Jangan memaksakan game kompetitif atau game yang menghukum kesalahan terlalu keras saat semua orang cuma ingin santai. Pengalaman co-op yang sehat bukan cuma soal menang, tapi menjaga suasana tetap enak.

Kekurangan lain: beberapa game local co-op tidak mendukung progres yang adil untuk semua pemain. Misalnya hanya akun utama yang menyimpan progres, sementara pemain kedua hanya ikut sementara. Ini perlu dicek sebelum beli, terutama kalau kamu dan teman ingin lanjut rutin setiap minggu. Hal kecil seperti ini bisa bikin kecewa, karena pemain kedua merasa investasinya tidak dihitung.

Satu lagi, local co-op butuh ruang fisik. Kedengarannya sepele, tapi tidak semua orang punya ruang nyaman untuk 3 sampai 4 orang duduk menghadap TV. Kalau kamar sempit, ventilasi kurang, atau layar terlalu dekat, sesi main bisa cepat melelahkan. Jadi, split screen masih worth, tapi perlu kondisi yang pas. tampilan split screen game co-op di televisi ruang tamu.

Berapa biaya realistis untuk menikmati co-op lokal split screen?

Biayanya tergantung kamu mulai dari nol atau sudah punya perangkat. Kalau sudah punya konsol atau PC gaming, biaya utama biasanya game dan controller tambahan. Game co-op lokal saat diskon bisa sangat murah, kadang di bawah Rp100 ribu untuk judul indie atau game lama di PC. Untuk game populer yang lebih baru, harga diskon bisa berkisar Rp150 ribu sampai Rp400 ribu. Harga normal tentu bisa lebih tinggi, jadi sabar menunggu diskon sering jadi strategi paling masuk akal.

Controller adalah pos biaya yang sering lebih besar daripada game. Kalau ingin main berdua, kamu butuh minimal dua controller. Kalau satu sudah ada, tinggal tambah satu. Untuk main bertiga atau berempat, biaya naik cukup cepat. Controller pihak ketiga bisa lebih murah, tapi kualitas tombol, analog, dan koneksi berbeda-beda. Saya pribadi lebih milih punya dua controller yang nyaman dulu daripada memaksakan empat controller murah yang gampang bermasalah. Kalau pakai PC, ada keuntungan fleksibilitas. Beberapa game bisa dimainkan dengan kombinasi keyboard dan controller. Tapi tidak semua nyaman. Game seperti Overcooked masih bisa dengan keyboard, namun untuk pengalaman santai di sofa, controller jauh lebih enak. Di sisi lain, PC punya toko digital dengan diskon rutin, sehingga koleksi local co-op bisa dibangun pelan-pelan tanpa menguras dompet sekaligus Beberapa pertimbangan tambahan di game pemula.

Untuk gambaran realistis, skenario hematnya begini: sudah punya laptop atau konsol, beli satu controller tambahan sekitar ratusan ribu, lalu beli 2 sampai 3 game co-op saat diskon total sekitar Rp200 ribu sampai Rp600 ribu. Dengan kombinasi itu, kamu sudah punya bahan main untuk banyak malam. It Takes Two saja bisa mengisi sekitar 10 jam lebih, sedangkan Overcooked 2 bisa dipakai berulang karena levelnya cocok dimainkan ulang dengan grup berbeda.

Kalau dibandingkan nongkrong di luar, biaya awal split screen terasa agak besar, tapi bisa dipakai berulang. Misalnya empat orang patungan beli satu game diskon Rp200 ribu, masing-masing hanya keluar Rp50 ribu. Tentu ini bukan hitungan yang berlaku untuk semua situasi, tapi untuk circle yang sering kumpul, nilainya masuk akal.

Kapan lebih baik pilih online co-op daripada split screen?

Split screen bukan jawaban untuk semua kebutuhan. Kalau teman mainmu tinggal beda kota, jadwal kumpul susah, atau kalian ingin main game dengan progres panjang seperti looter, survival besar, atau MMO-lite, online co-op lebih cocok. Di 2026, fitur party chat, cloud save, dan crossplay di beberapa game sudah membuat main jarak jauh jauh lebih nyaman dibanding beberapa tahun lalu.

Online co-op juga lebih enak untuk game yang butuh layar penuh. Shooter taktis, game survival dengan banyak menu, atau RPG yang UI-nya padat biasanya lebih nyaman dimainkan di perangkat masing-masing. Tiap pemain punya ruang pandang penuh, bisa atur setting sendiri, dan tidak terganggu pembagian layar. Kalau targetnya performa dan fokus, online sering menang.

Namun split screen unggul saat tujuan utamanya adalah kebersamaan fisik. Misalnya kamu ingin mengenalkan game ke pasangan yang jarang main, menghibur sepupu yang datang saat liburan, atau bikin acara kecil di rumah. Situasi seperti ini tidak butuh setup rumit. Nyalakan TV, pilih game yang mudah dipahami, lalu mulai. Game yang tutorialnya singkat dan kontrolnya intuitif biasanya lebih berhasil.

Saya melihat split screen lebih cocok diperlakukan sebagai “mode kumpul”, bukan pengganti semua bentuk multiplayer. Untuk hari biasa, kamu mungkin tetap main online dengan teman kantor atau teman lama. Untuk malam Sabtu ketika ada dua teman datang bawa camilan, split screen terasa lebih hidup. Kira-kira seperti beda antara video call dan ngobrol langsung: dua-duanya berguna, tapi rasanya tidak sama.

Jadi, keputusan paling praktis adalah lihat pola hidupmu. Kalau kamu punya akses rutin ke teman satu rumah atau satu kota, split screen masih sangat worth. Kalau tidak, pilih game online co-op dulu, lalu simpan local co-op sebagai opsi saat ada momen kumpul.

empat controller di meja untuk sesi game co-op bersama teman

Game co-op lokal split screen masih worth dimainkan di 2026 selama ekspektasinya tepat. Jangan berharap semua game modern mendukungnya.

Referensi: sumber resmi.

Sumber lanjutan: sumber resmi

Tag: #game co op #split screen #review game